Tentang Rakernas V IMABSII 2016

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Sebagai lambang kebangsaan nasional, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan. Atas dasar kebangsaan itu, bahasa Indonesia selalu dipelihara dan dikembangkan. Begitu pula dengan perkembangan sastra Indonesia yang kini peminatnya tidak banyak seperti masa jayanya di angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Apresiasi dalam sastra Indonesia, baik menciptakan karya baru atau mengembangkan sastra klasik Indonesia kian hari semakin surut geloranya.

Dalam bidang sastra, Indonesia masih menjadi terra incognita (negeri tak dikenal). Pada masa lalu kita pernah melahirkan karya-karya klasik yang tak kalah hebat dengan warisan bangsa lain. Sebut misalnya I La Galigo atau Serat Centhini. Namun, untuk kembali melahirkan karya-karya besar, kita harus mau membuka diri. Tidak hanya puas terkungkung dalam tempurung.

Rasa bangga memakai bahasa Indonesia dan kesadaran untuk tetap berkarya dalam sastra Indonesia wajib dibina terus. Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSII) yang menjadi wadah bagi mahasiswa sebagai pemuda yang berintelektual sudah sepatutnya untuk lebih cerdas dalam menghidupkan dan menggelorakan semangat bahasa Indonesia serta menciptakan karya dalam sastra Indonesia. Inilah yang kami harapkan ada dalam diri mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, memiliki karakter yang kuat tidak hanya mampu namun juga cerdas dan bangga menggunakan bahasa dan sastra Indonesia.

Saat ini Indonesia tengah berada di era globalisasi, di mana pengaruh bahasa asing begitu besar terhadap bahasa dan sastra  Indonesia. Banyak pihak yang berasumsi hanya dampak negatif yang dibawa dari peristiwa ini. Tapi, dari kaca mata mahasiswa semua hal harus dilihat dari dua sisi. Era globalisasi tidak hanya memiliki dampak negatif khususnya dalam bahasa dan sastra Indonesia, tetapi juga memiliki dampak positif, yaitu dapat menjadi pintu gerbang bahasa dan sastra Indonesia untuk memasuki dunia internasional. Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam dan Australia kini mengusung bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kedua di negara mereka. Belanda, Jerman dan beberapa daerah di Eropa juga memiliki minat dalam mendalami dan meneliti sastra Indonesia, khususnya sastra klasik Indonesia. Contohnya, seperti lontar, folklore dan kepercayaan yang mengakar pada keseharian masyarakat Indonesia.

Bali, sebagai pusat dunia pariwisata di Indonesia menjadi pilihan tepat sebagai lokasi kegiatan ini untuk mengenalkan bahasa dan sastra Indonesia ke kancah internasional. Selain itu di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana juga memiliki program BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing) yang sudah meluluskan ratusan mahasiswa asing yang belajar bahasa Indonesia dari berbagai belahan dunia, dapat menjadi salah satu kunci untuk membuka pintu gerbang dunia internasional untuk mengharumkan nama bahasa dan sastra Indonesia.

Melalui rangkaian kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V IMABSII diharapkan dapat membuat program kerja dan upaya menduniakan bahasa dan sastra Indonesia, menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya Indonesia, dan berbagi ilmu mengenai bahasa dan sastra Indonesia. Selain itu juga dapat merancang kegiatan keorganisasian yang dapat menjadikan bahasa dan sastra Indonesia dijunjung tinggi sebagai bahasa persatuan, sebagaiamana disebutkan pada bait ketiga Sumpah Pemuda.

Rakernas V IMABSII juga menjadi tempat bagi mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia untuk mengenal universitas dan kebudayaan masing-masing peserta dari seluruh Indonesia dan akan pentingnya memiliki kebanggaan menggunakan bahasa dan sastra Indonesia. Terakhir teriring harapan semoga segalanya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dukungan secara moral dan material dari semua pihak diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan keberanian kami dalam menghadapi segala tantangan ke depan.

Advertisements